Dalam sajak yang setengah panjang, dan ditemani aksara yang kerap kaku,
seorang yang pantang menyerah nyaris terkantuk berperang dengan kalimat-kalimat yang minta dirangkai.
'Aku menulis ini untukmu..'
Ia mengetik itu dan tak lama menghapusnya.
Sedetik, dua detik, 5 menit, dan setengah jam,
ia terus berfikir dan akhirnya mulai mengetik kembali,
'Ini aku persembahkan padamu..'
Haaah, lagi-lagi ia menghapus habis semunya tepat pada titik kedua.
Hingga saat ini,
belum ada satu kalimatpun yang pas menurutnya.
Jemari panjang yang sedari tadi melangkah melintasi huruf demi huruf mogok begitu saja,
diam tanpa hasil barang sebatang katapun.
Putus asa,
keinginannya untuk berpuisi padam,
dia menyatakan diri menyerah dan merapikan meja kerjanya.
Membuka ponselnya dan mulai mengetik sesuatu sebelum tertidur,
'Malam ini saya tak dapat menulis apa-apa. Saya cuma bisa bilang saya sayang kamu tanpa banyak basa-basi seperti biasanya..'
Ia menekan tombol send dan badannya tenggelam sudah dikasur,
damai menuju mimpi,
bertemu dengan sang kekasih yang selalu membuatnya kehilangan paragraf-paragraf kata dalam puisinya.