Betapa aku rindu rumah,
muara dari semua kasih yang aku tampung sementara dikontrakan sempit kecil yang pengap dan sesak ini.
Rumah yang membawaku tidur nyenyak bisa lebih dari 1x24 jam.
Bukan, bukan rumah yang sedang kalian bayangkan saat ini,
rumah yang disusun dari batu bata yang dilapis cat warna warni dengan jendela, pintu dan atap diatasnya.
---
Rumah yang ku maksud berkaki dua,
memiliki dua lengan kekar yang menempel di bahu sebelah kiri kanannya.
Rumah dengan senyum yang membuatku tak mampu menelan ludah hingga tersedak-sedak.
Rumah dengan pelukan yang membuatmu meringkuk lelap tak ingin terjaga bila bisa.
Betapa aku rindu rumah,
aku-rindu-rumah.
Pulanglah cepat rumah,
kontrakan sempitku mulai letih nemampungku yang bertumpang tindih dengan rindu.
Sunday, November 17, 2013
Monday, November 4, 2013
Puasa-Puisi
Jemari telah berubah menjadi lawan
tidak ada satu kalimatpun mampu aku genapkan menjadi tulisan
Perang dingin yang tak kunjung cair
Nonsense
Imajinasiku sedang butuh navigator, barangkali
Mungkin butuh sebuah jeda.
Maklum saja, aku hanya pembual, biarkan bualanku puasa sejenak.
Berharap menjadi bagian dari tulisan yang kau rindukan.
tidak ada satu kalimatpun mampu aku genapkan menjadi tulisan
Perang dingin yang tak kunjung cair
Nonsense
Imajinasiku sedang butuh navigator, barangkali
Mungkin butuh sebuah jeda.
Maklum saja, aku hanya pembual, biarkan bualanku puasa sejenak.
Berharap menjadi bagian dari tulisan yang kau rindukan.
si pencuap yang kehabisan kalimat
Labels:
#bualanhati
Subscribe to:
Posts (Atom)