Malam
ini aku duduk dihadapan seorang wanita cantik. Aku baru berani melihatnya
setelah dia mengalihkan perhatiannya kepada buku menu. Aku memperhatikan bagaimana
matanya membaca satu menu lalu pindah kemenu dibawahnya, sampai dia membalikkan
lembarannya. Rambutnya yang hitam jatuh menutup mukanya, dan dia menyisir rambut
itu dengan jemarinya, meletakkan rambut itu kebelakang dan lanjut membaca lagi.
Sadar aku sudah lama tak bergerak menyentuh buku menu itu, dia lalu memindahkan
matanya kepadaku. Kami bertatapan, sebentar mungkin, tapi aku merasa itu
tatapan terlama kami. Dia lalu tersenyum, dan hatiku langsung mencelos, aaaah lega sekali melihat senyum itu..
‘kamu ngga mesan?’
tanyanya,
‘mesen kok, nunggu
kamu dulu..’ jawabku berdalih,
‘aku bingung mau
pesen apa, kamu aja dulu. Mana tau bisa jadi referensi..’
‘ahhh kalau gitu, aku
pesan teh tawar sajalah, dengan pisang goreng ngga pakai apa-apa..’
‘emang enak yah?’
tanyanya sambil memasang tampang bingung, tapi dia seperti percaya,
‘kalau makan sendiri
ngga enak, tapi kalau berdua sama kamu pasti jadi menu paling enak disini..’
jawabku, sambil tersenyum, aku lihat bibirnya menahan senyuman, kata-kataku
berhasil,
‘garing, seriussss
deh, mana yang enak?’ tanyanya, dengan mimik wajah menahan senyum, pura-pura kesal,
aku suka mimik wajahnya yang satu ini, aaaah surga dunia sekali.
Aku lalu memanggil pelayan, dan pelayan itu
bergegas mendatangi meja kami sambil membawa buku catatan dan pulpen, aku memesan
makanan terbaik direstoran itu, dan dia juga mengikutinya.
Sambil
menunggu makanan datang, aku bertanya padanya tentang bagaimana dengan harinya.
Dia menjawabnya, lucunya tangannya pun ikut bercerita, dilemparnya kekiri dan
kekanan, lalu dia cekikikan, aku mengikutinya, sayhdu sekali.
Aku
ingin mendengar dia terus bercerita, jujur aku tak menyimak, tapi aku suka cara
dia bicara, hanya itu alasan aku betah mendengarnya berceloteh. Lalu dia diam,
dan bertanya balik. Aku menceritakan tentang hariku sesingkat mungkin, agar aku
diberi kesempatan untuk mendengarnya bicara lagi. Dia menatapku dengan sebal,
karena jawabanku tak sesuai dengan harapannya. Gusar sekali melihat tatapan
dari wajah malaikat itu, maka aku memulai ceritaku dari awal, mengimbuhkan sedikit
hal-hal lucu dan mimik aneh didalamnya, aku sukses, dia tertawa sampai hampir
tersedak dan terpingkal-pingkal. Menyaksikan dia tertawa seperti itu, aku tiba-tiba
merasa ini magis, dia menghadirkan gelombang kesenangan yang sulit aku
jelaskan. Dia membuatku berhasil menjadi pelawak malam itu, dengan bayaran
paling mahal, yaitu tawanya. Tak sadar makanan kami habis, piring-piring kami
licin, dan suasana restoran mulai menyepi.
Aku
mencium aroma perpisahan menyeruak. Sambil menuju jalan pulang aku tak melepas
genggaman kami. Aku akan mengizinkan dia bergelayut dilenganku sampai aku
renta, dan aku benci harus menanti pertemuan ini lagi dan bertanya kapan aku
bisa kembali berjumpa dengannya. Menanti pertemuan dengan rindu-rindu dan tanda
tanya. Tapi setiap pertemuan ada perpisahan. Sederhananya, rindu selalu hadir
diujung pertemuan ini. Oh Tuhan… kenapa tak kau dekatkan saja dunia kami
berdua?
Tapi
sudahlah, aku menikmati rindu kami, rindu kita. Pertemuan besok dan selanjutnya
adalah harapanku untuk tetap menata langkahku dengan baik, dan menghembuskan
nafas dengan benar. Selamat malam putri, selamat bertemu lagi. Aku adalah
perindu yang paling candu, karena senyum-mu yang luar biasa manis itu.
Akan
senang rasanya, suatu hari aku membuka kertas, dan rangkaian kalimat indah itu
bergelayut didalamnya. Menanti untuk terus dibuka.
Siapapun,
setelah pertemuan kita, buatlah surat seperti ini, untuk dapat ku baca, agar
aku tak merasa sendiri saat bersyukur aku memiliki engkau, yang lebih dari
segalanya.
 |
*googling*
|
Selamat malam, semoga malam-mu tak seburuk malamku!