Saturday, March 23, 2013

Keikhlasan pada sebuah kehilangan, yang panjang

Perempuan itu datang dengan pakaian rumah, baju kaus dan rok batik panjang. Dia berdiri didepan pintu rumah kekasihnya, lama tak bergerak. Matanya menatap lurus kearah jasad yang terbujur kaku itu. Di benaknya hadir kenangan demi kenangan, Kamu pergi terlalu cepat, benaknya. Matanya bengkak, nyaris seperti lebam. Setelah semua mata pelayat tertuju padanya, dia munundukkan kepala, dan melangkah masuk kedalam rumah. Batinya kembali berseteru, dia tak sanggup melanjutkan langkahnya lebih dekat ke pembaringan sang kekasih, tapi.. ini bisa jadi kali terakhir ia bisa melepas rindunya, dan juga awal dari luka kehilangan yang dalam, yang akan dalam sekali. Ia maju lagi, mendekat, dan terduduk disitu. Tak ada cukup kekuatan untuknya bicara, dalam bungkamnya ia terisak, meratapi kepergian orang yang ia cintai. Didalam pikirannya hadir senyuman, tawa, canda, keriangan, tangis, risau, dan sekelebit kenangan lain yang disaksikannya dulu, saat jasad dihadapannya itu masih bernyawa. Dengan penuh keberanian, dibukanya kain putih transparan penutup wajah kekasihnya, tangisnya makin menjadi. Wajah tampan itu kini tertidur pulas dalam istirahat abadinya. Bisu tapi tak tuli, dia yakin. Maka dikumpulkannya tenaga, didekatkannya wajahnya dengan jasad itu lalu berbisik, 'Kamu pergi terlalu cepat untukku, tenanglah dalam damai, dan jangan jenuh menantiku. Aku yakin kau mendengarku..'. Dia kembali memundurkan badannya, dan ditutupnya kembali wajah itu dengan kain. Dia memeluk badan jasad itu dan membenamkan muka disana, kembali terisak, tak rela ditinggal pergi sang kekasih lebih dulu. Lama dia mengisak, hingga tangisnya tinggal sedu, diangkatnya kepala, dilihatnya ibu kekasihnya, dan dia tau, dia tak berduka sendirian. Di genggamnya tangan ibu itu, lalu disalaminya, lama, sambil kembali terisak. Dibathinnya dia berkata, maut memisahkan kita, rela atau tidak aku harus bisa menyaksikan kepergianmu, kini aku akan menikmati rinduku, rindu kita, kenanganmu tak-kan padam oleh masa. Lalu dia berdiri, matanya bukan main bengkak, belum pernah dia merasa se-nelangsa ini oleh sebuah kehilangan, yang permanen. Dia pulang, dan bersama langkah kakinya itu, dia merelakan kekasihnya, kembali kerengkuhan sang Kuasa..

Based from true story,
this story dedicated for my cousin Alm.Andre.
rest in piece, borther. 
ini adalah kehilangan kami, dia, dan semuanya

Monday, March 18, 2013

Dekade untuk Kita..

Aku menatapmu sambil melamun,
pikiranku bak akar pepohonan yang cabangnya membawaku pada kenangan demi kenangan..

Aku curiga mungkin aku takkan lupa,
bagaimana gelak tawa kita dimuntahkan ke udara
lalu aku merangkul lenganmu sambil memejamkan mata..
adakah sedekade lagi untuk kita bersama-sama?

Aku selalu menjamu hatimu dengan suka cita,
membuka gerbang hatiku untukmu kapan saja..
kalau kalau kau lupa jalan pulangnya,
percayalah, arahmu kemana saja membawamu kesini jua..

Biar saja mereka menghabiskan waktu dengan terus bersama sama,
tapi kita..
kita bersama sama tanpa menghabiskan waktu waktu kita..

Aku yakin kau tau banyak cara,

agar membuat aku tak terjaga lalu bangun dalam keadaan lupa,
ternyata aku tidur di lenganmu sedekade lamanya..

Karena, ada sedekade lagi untuk kita..

*tumblr*


Letter for Juliet, your Juliet..


    Malam ini aku duduk dihadapan seorang wanita cantik. Aku baru berani melihatnya setelah dia mengalihkan perhatiannya kepada buku menu. Aku memperhatikan bagaimana matanya membaca satu menu lalu pindah kemenu dibawahnya, sampai dia membalikkan lembarannya. Rambutnya yang hitam jatuh menutup mukanya, dan dia menyisir rambut itu dengan jemarinya, meletakkan rambut itu kebelakang dan lanjut membaca lagi. Sadar aku sudah lama tak bergerak menyentuh buku menu itu, dia lalu memindahkan matanya kepadaku. Kami bertatapan, sebentar mungkin, tapi aku merasa itu tatapan terlama kami. Dia lalu tersenyum, dan hatiku langsung mencelos, aaaah lega sekali melihat senyum itu..
‘kamu ngga mesan?’ tanyanya,
‘mesen kok, nunggu kamu dulu..’ jawabku berdalih,
‘aku bingung mau pesen apa, kamu aja dulu. Mana tau bisa jadi referensi..’
‘ahhh kalau gitu, aku pesan teh tawar sajalah, dengan pisang goreng ngga pakai apa-apa..’
‘emang enak yah?’ tanyanya sambil memasang tampang bingung, tapi dia seperti percaya,
‘kalau makan sendiri ngga enak, tapi kalau berdua sama kamu pasti jadi menu paling enak disini..’ jawabku, sambil tersenyum, aku lihat bibirnya menahan senyuman, kata-kataku berhasil,
‘garing, seriussss deh, mana yang enak?’ tanyanya, dengan mimik wajah menahan senyum, pura-pura kesal, aku suka mimik wajahnya yang satu ini, aaaah surga dunia sekali.

 Aku lalu memanggil pelayan, dan pelayan itu bergegas mendatangi meja kami sambil membawa buku catatan dan pulpen, aku memesan makanan terbaik direstoran itu, dan dia juga mengikutinya.
Sambil menunggu makanan datang, aku bertanya padanya tentang bagaimana dengan harinya. Dia menjawabnya, lucunya tangannya pun ikut bercerita, dilemparnya kekiri dan kekanan, lalu dia cekikikan, aku mengikutinya, sayhdu sekali.
Aku ingin mendengar dia terus bercerita, jujur aku tak menyimak, tapi aku suka cara dia bicara, hanya itu alasan aku betah mendengarnya berceloteh. Lalu dia diam, dan bertanya balik. Aku menceritakan tentang hariku sesingkat mungkin, agar aku diberi kesempatan untuk mendengarnya bicara lagi. Dia menatapku dengan sebal, karena jawabanku tak sesuai dengan harapannya. Gusar sekali melihat tatapan dari wajah malaikat itu, maka aku memulai ceritaku dari awal, mengimbuhkan sedikit hal-hal lucu dan mimik aneh didalamnya, aku sukses, dia tertawa sampai hampir tersedak dan terpingkal-pingkal. Menyaksikan dia tertawa seperti itu, aku tiba-tiba merasa ini magis, dia menghadirkan gelombang kesenangan yang sulit aku jelaskan. Dia membuatku berhasil menjadi pelawak malam itu, dengan bayaran paling mahal, yaitu tawanya. Tak sadar makanan kami habis, piring-piring kami licin, dan suasana restoran mulai menyepi.
Aku mencium aroma perpisahan menyeruak. Sambil menuju jalan pulang aku tak melepas genggaman kami. Aku akan mengizinkan dia bergelayut dilenganku sampai aku renta, dan aku benci harus menanti pertemuan ini lagi dan bertanya kapan aku bisa kembali berjumpa dengannya. Menanti pertemuan dengan rindu-rindu dan tanda tanya. Tapi setiap pertemuan ada perpisahan. Sederhananya, rindu selalu hadir diujung pertemuan ini. Oh Tuhan… kenapa tak kau dekatkan saja dunia kami berdua?
Tapi sudahlah, aku menikmati rindu kami, rindu kita. Pertemuan besok dan selanjutnya adalah harapanku untuk tetap menata langkahku dengan baik, dan menghembuskan nafas dengan benar. Selamat malam putri, selamat bertemu lagi. Aku adalah perindu yang paling candu, karena senyum-mu yang luar biasa manis itu.  

Akan senang rasanya, suatu hari aku membuka kertas, dan rangkaian kalimat indah itu bergelayut didalamnya. Menanti untuk terus dibuka.
Siapapun, setelah pertemuan kita, buatlah surat seperti ini, untuk dapat ku baca, agar aku tak merasa sendiri saat bersyukur aku memiliki engkau, yang lebih dari segalanya.

*googling*



 
Selamat malam, semoga malam-mu tak seburuk malamku!