kau hadir dalam bentuk yang tidak sederhana
ku terima kau dalam keadaan yang tidak aku duga
hanya sekedar mata.
lalu semuanya berubah, dan dengan senang hati aku hilang arah
setiap kali kau menyapa, dimensiku ku berbeda
semalaman aku terjaga,
sibuk menimbang rasa.
segala upaya telah ku coba,
tapi nurani ku menolak lupa, meski pikiranku muntah-muntah memaksa
kini bukan hanya bentukmu saja, kehadiranmu membuat semuanya makin tak sederhana
aku tak bisa berlama-lama,
pilihannya hanya dua
sekarang atau lain kali saja.
kalau begitu marilah melangkah,
menyibak angan untuk merengkuhmu, walau hanya sekedar bayang..
karena kita bicara soal realita--
ya, aku sudah lupa.
tadi kita bicara apa?
Thursday, December 4, 2014
Monday, December 1, 2014
Menyapa
aku kini jarang menulis
tidur pun waktunya mulai miris
aku kini jarang berbual
daftar tugas sudah membuat mual
jemari ku kini diranah yang berbeda
bisa tidak bisa aku menggambar saja
'yang penting kertasnya punya rupa !'
khayalan tentang romantika gila dan imajinasi aksara
dijajah habis oleh rupa arsitektura
ini masih tahun pertama katanya..
tapi aku dibuat hampir setengah gila.
untung saja masih bisa berkata 'tidak apa apa'
TIDAK APA APA
ini masih tahun pertama, begitu benarnya
GILA
tapi benar saja, tidak apa apa
bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian harinya
sesempatnya, aku akan bertandang
menyapa penonton tak berupa, yang mungkin saja kurasa tak ada
selamat hari senin.
dari badan penuh lemak dan kafein
tidur pun waktunya mulai miris
aku kini jarang berbual
daftar tugas sudah membuat mual
jemari ku kini diranah yang berbeda
bisa tidak bisa aku menggambar saja
'yang penting kertasnya punya rupa !'
khayalan tentang romantika gila dan imajinasi aksara
dijajah habis oleh rupa arsitektura
ini masih tahun pertama katanya..
tapi aku dibuat hampir setengah gila.
untung saja masih bisa berkata 'tidak apa apa'
TIDAK APA APA
ini masih tahun pertama, begitu benarnya
GILA
tapi benar saja, tidak apa apa
bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian harinya
sesempatnya, aku akan bertandang
menyapa penonton tak berupa, yang mungkin saja kurasa tak ada
selamat hari senin.
dari badan penuh lemak dan kafein
Labels:
#bualanhati,
#bukubaru
Thursday, February 20, 2014
Ritme dan Nada
Tidak ada yang lebih benar dari pada musik.
Dan selera.
Begitu menurut kacamata mereka.
Mereka itu adalah sepasang yang banyak bual,
mereka dapat tertawa terpingkal-pingkal hingga sengal.
Sungai kata mereka seakan tak pernah kering.
Yang lelaki..
Mahir bermain alat musik apa saja.
Dan wanitanya..
Tau musik dari sisi mana saja.
Musik adalah salah satu alasan mereka tetap ingin hidup,
sedang alasan lainnya adalah mereka sendiri.
...
Teras mereka tidak pernah hening,
kau akan mendengar musik dari abad kapan saja.
Seperti kebiasaan menyeduh kopi santai sore-nya.
Rumah mereka tidak pernah absen dari debu.
Kau akan dipengapkan oleh alat musik berbagai rupa.
Bisa saja dipanggil museum serbaguna.
Musik bagi mereka adalah filosofi.
Musik adalah nutrisi.
Musik adalah antibiotik.
Dan musik adalah aphrodite.
Mereka mecintai satu sama lain tanpa jeda,
saling beriringan bagai ritme dan nada,
dan terus pada tempo yang tak pernah berbeda.
Berharap cintanya seperti musik, yang takkan pernah tenggalam oleh zaman yang menelannya.
Dan selera.
Begitu menurut kacamata mereka.
Mereka itu adalah sepasang yang banyak bual,
mereka dapat tertawa terpingkal-pingkal hingga sengal.
Sungai kata mereka seakan tak pernah kering.
Yang lelaki..
Mahir bermain alat musik apa saja.
Dan wanitanya..
Tau musik dari sisi mana saja.
Musik adalah salah satu alasan mereka tetap ingin hidup,
sedang alasan lainnya adalah mereka sendiri.
...
Teras mereka tidak pernah hening,
kau akan mendengar musik dari abad kapan saja.
Seperti kebiasaan menyeduh kopi santai sore-nya.
Rumah mereka tidak pernah absen dari debu.
Kau akan dipengapkan oleh alat musik berbagai rupa.
Bisa saja dipanggil museum serbaguna.
Musik bagi mereka adalah filosofi.
Musik adalah nutrisi.
Musik adalah antibiotik.
Dan musik adalah aphrodite.
Mereka mecintai satu sama lain tanpa jeda,
saling beriringan bagai ritme dan nada,
dan terus pada tempo yang tak pernah berbeda.
Berharap cintanya seperti musik, yang takkan pernah tenggalam oleh zaman yang menelannya.
![]() |
| Googling |
Labels:
#efek kafein,
#roman
Subscribe to:
Posts (Atom)
