aku nggak pernah berharap apapun, bahkan untuk membuat kamu menjadi orang lain untuk aku. aku nggak pernah minta kamu jadi pasangan sempurna, walau hati menuntut begitu, tp buat apa kalau memang kamu seperti ini? aku bahkan menikmati. dan kemudian aku ingat janji kamu, tentang kuku, tentang pelangi pujuaan kamu, pasir samudra, bahkan hingga saat ini. sepertinya semua kalimat yang kamu ucapin amat nyata dan bisa aku sentuh, bahkan terasa bisa aku peluk selamanya. sayang, kita bahkan nggak bisa mengetahui kapan orang itu bohong atau jujur. sangat sayang. dan pada hari itu, hari dimana yang nggak bisa diduga terasa nyata, yang dijanjiin tidak terjadipun terjadi juga, akhir dimana semua harus dipasrahkan, yang dipertahankan untuk bertahan harus berhenti oleh sebuah alasan saling melepaskan. aku bahkan tidak bisa melakukan apapun selain mencapai satu tujuan, menahan sakit untuk kesekian kalinya kepada orang yang pd hari itu amat jelas menyakiti, hanya agar dia bisa bahagia. mungkin pada malam itu semuanya terbalik. amat terbalik. kamu mulai merasa anugrah itu meninggalkanmu dan membiarkannya pergi, membiarkan rasa saling meyakiti menyelubungi, dimana kita saling punya kesempatan untuk menyayangi. apakah salah hamba? apakah kesabaranku tidak pantas untukmu? tapi kenapa, bahkan hingga saat ini, aku masih menyanggupi sabar yang panjang, ya. tapi untuk apa aku menulis ini sekarang? untuk memberi kesenangan pada hati yang terluka ini? mungkin..
kuku kamu telah berhenti tumbuh- karena kini kamu telah membiarkan cinta itu berhenti. untuk selamanya
atau pasir yang dulu kamu jatuhkan kesamudra telah kamu temukan sehingga janjimu untuk berhenti mencintaiku harus kamu tepati?
mungkin kamu telah mengingat orang yang tidak kamu kenal. karena kamu mampu melupakanku olehmu dulu sama dengan mengingat orang yang tidak kamu kenal.
tertandaku..
No comments:
Post a Comment