Monday, April 29, 2013

Diferensiasi sudut-sudut kehidupan kota

Kota yang tidak pernah tidur itu di senandungi carut marut.
Manusia individual, menikmati dunia sendiri, seakan enggan berbagi.

'Bulan tua!' teriak seorang kakek-kakek sambil mengisap cerutu, mengangkat sebelah kakinya dikursi rotan tua yang sama uzur dengan umurnya,
'Tiap hari orang miskin makan ikan asin!' timpal laki-laki paruh baya disebelahnya,
lalu tawa mengepul diikuti asap cerutu, mengangkat kepiluan dua laki-laki bau tanah itu, pura-pura tidak peduli besok akan makan apa..

Pada sorot kehidupan lain, ditempat yang diisi dengan lemari tinggi, berisi kristal-kristal mahal dan sofa empuk,
'kamu terlalu sibuk..' keluh sang istri, sambil merapikan dandanan alisnya,
'tidak apa, kan kalian yang menikmati hasilnya..' jawab sang suami letih,
'tapi kamu jarang nongol, kami seperti pungguk merindukan bulan menanti kamu..', balas sang istri sambil meninggalkan ruang itu,
lalu keadaan berubah sedingin udara tengah kota yang makin larut itu..

Dilain tempat, seorang gadis melamuni nasibnya,
dia mendambakan kota penuh sesak yang dipenuhi menara-menara pencakar langit, memiliki banyak tempat yang bersedia menampung kehadirannya.
Maka dibawanya angan itu terlelap, menjadi bunga tidur yang belum jua terjawab..

Sedang disudut kota yang sepi, gadis pucat pasi duduk berselempa,
menanti tumpangan agar tidak tidur dijalanan,
bersedia makan dari pekerjaan apa saja.
Malam itu ia mensesalkan kepergiannya, betapa dia rindu kampung halamannya yang tak sekejam ibu kota..

No comments:

Post a Comment