Monday, March 18, 2013

Letter for Juliet, your Juliet..


    Malam ini aku duduk dihadapan seorang wanita cantik. Aku baru berani melihatnya setelah dia mengalihkan perhatiannya kepada buku menu. Aku memperhatikan bagaimana matanya membaca satu menu lalu pindah kemenu dibawahnya, sampai dia membalikkan lembarannya. Rambutnya yang hitam jatuh menutup mukanya, dan dia menyisir rambut itu dengan jemarinya, meletakkan rambut itu kebelakang dan lanjut membaca lagi. Sadar aku sudah lama tak bergerak menyentuh buku menu itu, dia lalu memindahkan matanya kepadaku. Kami bertatapan, sebentar mungkin, tapi aku merasa itu tatapan terlama kami. Dia lalu tersenyum, dan hatiku langsung mencelos, aaaah lega sekali melihat senyum itu..
‘kamu ngga mesan?’ tanyanya,
‘mesen kok, nunggu kamu dulu..’ jawabku berdalih,
‘aku bingung mau pesen apa, kamu aja dulu. Mana tau bisa jadi referensi..’
‘ahhh kalau gitu, aku pesan teh tawar sajalah, dengan pisang goreng ngga pakai apa-apa..’
‘emang enak yah?’ tanyanya sambil memasang tampang bingung, tapi dia seperti percaya,
‘kalau makan sendiri ngga enak, tapi kalau berdua sama kamu pasti jadi menu paling enak disini..’ jawabku, sambil tersenyum, aku lihat bibirnya menahan senyuman, kata-kataku berhasil,
‘garing, seriussss deh, mana yang enak?’ tanyanya, dengan mimik wajah menahan senyum, pura-pura kesal, aku suka mimik wajahnya yang satu ini, aaaah surga dunia sekali.

 Aku lalu memanggil pelayan, dan pelayan itu bergegas mendatangi meja kami sambil membawa buku catatan dan pulpen, aku memesan makanan terbaik direstoran itu, dan dia juga mengikutinya.
Sambil menunggu makanan datang, aku bertanya padanya tentang bagaimana dengan harinya. Dia menjawabnya, lucunya tangannya pun ikut bercerita, dilemparnya kekiri dan kekanan, lalu dia cekikikan, aku mengikutinya, sayhdu sekali.
Aku ingin mendengar dia terus bercerita, jujur aku tak menyimak, tapi aku suka cara dia bicara, hanya itu alasan aku betah mendengarnya berceloteh. Lalu dia diam, dan bertanya balik. Aku menceritakan tentang hariku sesingkat mungkin, agar aku diberi kesempatan untuk mendengarnya bicara lagi. Dia menatapku dengan sebal, karena jawabanku tak sesuai dengan harapannya. Gusar sekali melihat tatapan dari wajah malaikat itu, maka aku memulai ceritaku dari awal, mengimbuhkan sedikit hal-hal lucu dan mimik aneh didalamnya, aku sukses, dia tertawa sampai hampir tersedak dan terpingkal-pingkal. Menyaksikan dia tertawa seperti itu, aku tiba-tiba merasa ini magis, dia menghadirkan gelombang kesenangan yang sulit aku jelaskan. Dia membuatku berhasil menjadi pelawak malam itu, dengan bayaran paling mahal, yaitu tawanya. Tak sadar makanan kami habis, piring-piring kami licin, dan suasana restoran mulai menyepi.
Aku mencium aroma perpisahan menyeruak. Sambil menuju jalan pulang aku tak melepas genggaman kami. Aku akan mengizinkan dia bergelayut dilenganku sampai aku renta, dan aku benci harus menanti pertemuan ini lagi dan bertanya kapan aku bisa kembali berjumpa dengannya. Menanti pertemuan dengan rindu-rindu dan tanda tanya. Tapi setiap pertemuan ada perpisahan. Sederhananya, rindu selalu hadir diujung pertemuan ini. Oh Tuhan… kenapa tak kau dekatkan saja dunia kami berdua?
Tapi sudahlah, aku menikmati rindu kami, rindu kita. Pertemuan besok dan selanjutnya adalah harapanku untuk tetap menata langkahku dengan baik, dan menghembuskan nafas dengan benar. Selamat malam putri, selamat bertemu lagi. Aku adalah perindu yang paling candu, karena senyum-mu yang luar biasa manis itu.  

Akan senang rasanya, suatu hari aku membuka kertas, dan rangkaian kalimat indah itu bergelayut didalamnya. Menanti untuk terus dibuka.
Siapapun, setelah pertemuan kita, buatlah surat seperti ini, untuk dapat ku baca, agar aku tak merasa sendiri saat bersyukur aku memiliki engkau, yang lebih dari segalanya.

*googling*



 
Selamat malam, semoga malam-mu tak seburuk malamku!

No comments:

Post a Comment