Perempuan itu datang dengan pakaian rumah, baju kaus dan rok batik panjang. Dia berdiri didepan pintu rumah kekasihnya, lama tak bergerak. Matanya menatap lurus kearah jasad yang terbujur kaku itu. Di benaknya hadir kenangan demi kenangan,
Kamu pergi terlalu cepat, benaknya. Matanya bengkak, nyaris seperti lebam. Setelah semua mata pelayat tertuju padanya, dia munundukkan kepala, dan melangkah masuk kedalam rumah. Batinya kembali berseteru, dia tak sanggup melanjutkan langkahnya lebih dekat ke pembaringan sang kekasih, tapi.. ini bisa jadi kali terakhir ia bisa melepas rindunya, dan juga awal dari luka kehilangan yang dalam, yang akan dalam sekali. Ia maju lagi, mendekat, dan terduduk disitu. Tak ada cukup kekuatan untuknya bicara, dalam bungkamnya ia terisak
, meratapi kepergian orang yang ia cintai. Didalam pikirannya hadir senyuman, tawa, canda, keriangan, tangis, risau, dan sekelebit kenangan lain yang disaksikannya dulu, saat jasad dihadapannya itu masih bernyawa. Dengan penuh keberanian, dibukanya kain putih transparan penutup wajah kekasihnya, tangisnya makin menjadi. Wajah tampan itu kini tertidur pulas dalam istirahat abadinya. Bisu tapi tak tuli, dia yakin. Maka dikumpulkannya tenaga, didekatkannya wajahnya dengan jasad itu lalu berbisik, 'Kamu pergi terlalu cepat untukku, tenanglah dalam damai, dan jangan jenuh menantiku. Aku yakin kau mendengarku..'. Dia kembali memundurkan badannya, dan ditutupnya kembali wajah itu dengan kain. Dia memeluk badan jasad itu dan membenamkan muka disana, kembali terisak, tak rela ditinggal pergi sang kekasih lebih dulu. Lama dia mengisak, hingga tangisnya tinggal sedu, diangkatnya kepala, dilihatnya ibu kekasihnya, dan dia tau, dia tak berduka sendirian. Di genggamnya tangan ibu itu, lalu disalaminya, lama, sambil kembali terisak. Dibathinnya dia berkata,
maut memisahkan kita, rela atau tidak aku harus bisa menyaksikan kepergianmu, kini aku akan menikmati rinduku, rindu kita, kenanganmu tak-kan padam oleh masa. Lalu dia berdiri, matanya bukan main bengkak, belum pernah dia merasa se-nelangsa ini oleh sebuah kehilangan, yang permanen. Dia pulang, dan bersama langkah kakinya itu, dia merelakan kekasihnya, kembali kerengkuhan sang Kuasa..
Based from true story,
this story dedicated for my cousin Alm.Andre.
rest in piece, borther.
ini adalah kehilangan kami, dia, dan semuanya
No comments:
Post a Comment